Jumat, 28 Desember 2012

Basuh Luka Batinmu dengan Air Mata


Masih ingin menangis. ..!!!
Air mata belum cukup menghapus pilu di hati. ..

Menangislahhhh
Siram pilu dengan guyuran air mata
Bersihkan luka dengan hangatnya air mata. ..

Nanti atau mungkin sekarang. ..!!
Air mata akan membawah semua pilu itu ke telaga
Air mata akan membawah semua luka itu ke muara
Biarkan air mata mengalir
Membawah sakit dan derita dari hilir hati menuju muara dilautan luas
Basuh luka batinmu dengan air mata 
Sucikan deritamu dengan air mata yang lembut
Hingga tak ada bekas sama sekali. ..

Menangis, menangis, dan menangislahhh. ..!!
Cucurkan air matamu
Keringkan air matamu
Hingga detak waktu tak mampu memporak porandakan hatimu kelak. ..

Sabtu, 22 Desember 2012

Tersenyumlah di Detik Perpisahan


Kubiasan menjauh N tak menoleh untuk menatap. Jika saat perpisahan, pilu tak begitu terasa. Selamat tinggal tak berat terucap. Selamat jalan akan enteng dilisankan. Jika ada kesan indah yang tercipta dari kebersamaan, rindukan itu sebagai kenangan. Jika khilaf begitu berbekas, izinkan rangkaian kata mewakili maaf.
Detik ini aku sadar
Detik ini aku tulus
Detik ini aku ihklas
Khilaf beribu-ribu
Salah berupa-rupa
Ada air mata tertumpah
Ada  hati tergores
Ada senyum ternoda
Ada tawa terhianati
Ada kalbu tersayat
Tulisan n lisan tak cukup mewakili maaf
Perasaan N air mata moga cukup memohon maaf
Maafkan kebodohan yang dibuat
Berilah ampun
Jangan biarkan nostalgia ternodai. Tak ada yang berubah, keakraban tetap seperti dulu, kebersamaan ini kenangan terindah selama waktu berdetak.
Di belahan bumi yang lain ada yang menunggu kabar detak hidupmu, ada yang merindukan riang candamu, senyum tawamu, N tingkah konyolmu. Ingin kembali mengukir kisah yang menakjubkan bersama.
Hapus rindu dengan lentik jemarimu, abaikan ego dengan lembut syairmu. Kuharapkan itu untuk bernostalgia. Pandang gambar untuk mengusik kenangan. Bercengkramalah untuk mengukir riang. Abaikan ego untuk melanjutkan keintiman.
Untukmu N untukku nanti. ..
Wahai lawan yang selalu menjadi kawan, ,,
Wahai  tandingan yang selalu menjadi sahabat, ,,
Wahai pesaing yang selalu menjadi kekasih. ..
Bingkiskan hadiah termewah  dengan Tersenyum di detik perpisahan. ..

Kamis, 20 Desember 2012


Beribu Warna dari Senyum dan Lisanmu


Bila kususuri hidupku detik demi detik
Mungkin dirimu yang paling banyak memberikan warna

Walau waktu hanya singkat
Tapi,
Dirimu mampu menciptakan beribu warna dari senyum dan lisanmu

Walau waktu hanya memberikan kesempata secuil
Menikmati senyum manis dan syahdu syair lisanmu
Walau kau telah melangkah
Hilang dibalik kilauan warna yang kau ciptakan
Tapi
Beribu warna itu
Masih menghuni denyut jantun dan langkah ini




Akhirnya,
Warna indah itu akan membuat tetesan rindu
Berujung pilu yang teramat sakit
Indah warna itu akan tetap di sini
Dalam hati ini, sebagai kenangan terindah
Maaf. ..                                                                                             
Jika rindu ini tetap tertujuh padamu
Walau kutau warna itu, bukan lagi untukku.
Makassar
Ab’bhue

Senin, 24 September 2012

Q Ragu tp itu Pasti


Apa yang membuatmu hilang? ??
Kegelapan malamka yang membuatmu lenyap! !!
Ah, ,,
Pasti bukan, ,,
Kau bukan kelelawar yang suka dengan hitam pekatnya bumi.

Jangan-jangan silau mentari yang membuatmu tak terlihat! !!
Bisa jadi tu, ,,
Kaukan suka dengan kesucian sinar yang putih itu, ,,
Tapi, ,,
Sucika sinar itu bila tak membuatmu terlihat lagi olehku! !!
Saya rasa tidak, ,,
Itu malah dona karena  leburan kesucian itu merebutmu dariku.
Tak sepenuhnya benar si, ,,
Semuanya masih keraguan.
Tak ada yang pasti dari ungkapanku.
Cuma kamu yang bisa pastikan itu! !!

Tapi, ,,
Haruskah aku percaya dengan kepastian itu kalau membuatku sakit! !!
Aku masih ragu, ,,
Mungkin Cuma waktu yang bisa membuatnya pasti.
Aku sangat yakin itu.

Tapi, ,,
Berapa lama aku menungu kepastian itu? ??
Aku tak yakin bisa menungunya! !!
Karena bisa jadi besok aku sudah hancur, ,,
Tampa tau mana yang benar, ,,
Mana yang betul, ,,
Mana baik, ,,
Mana halal, ,,
Padahal aku masih mencari semua itu di sisi waktuku yang berdetak ini. ..

Makassar, 24 september 2012
Ab’bhue

Minggu, 23 September 2012

Kebahagian yang Menyakitiku

“Masa silam telah terbang
masa kini belumlah datang
masa kita hanyalah sepenggal titik kecil dimasa kini. . . .”

            Untaian puisi di atas, puisi kaum sufi karya Gulshan I Ras, sebagai bait yang begitu jelas teringat dalam relung sanubari yang tak sanggup aku realisasikan dalam hidupku. Dikala kehampaan mulai menari dalam anganku, kesepian kembali merajut pribadiku, seribu tanya terpatri dalam jiwa, menanyakan takdir dari ILAHI. “kapan aku bisa melupakanya?. Tuhan bantu hambamu ini melupakannya.”
            Kembali kurajut isi hati, ditemani sebatang rokok yang mengeluarkan asap mengepul terhempas tiupan angin, setiap hisapan rokok di tanganku entah mengapa menjadi begitu berarti bagiku dikala kusendiri, seolah-olah ia melambungkan anganku. Mengoreskan masa yang akan datang dalam pikiran yang terlihat begitu sempurna, meninggalkan alam nyata yang begitu hampa dan kosong, perih dan pedih. Kupadukan rokok urbanku dengan secangkir kopi susu ditambah cemilan potongan-potongan ubi goreng yang begitu nikmat, sembari mendengarkan tembang-tembang kenangan favoritku dari MP3 di henpon sambil sesekali mengikuti syair yang begitu menyentu dalam jiwa.
“ . . . . Hatiku terluka karena asmara,
dia yang kusayang merebut hatinya.
Di depan mata dia belai mesra dia karibku sendiri.
Biarlah kupergi membawah lara di hati
Kalau itu jalan terbaik untukmu
Tak kau hiraukan hancurnya hatiku
Luka ini takkan ada obatnya. . . .”
Syair lagu dari Tommi J Pisa begitu menyentuh kalbu, mengikuti kata hati, menyelami kekosongan jiwa. Huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat kusimak dengan sangat teliti.
Begitu indah terpatri dipendengaranku, suara yang merdu diimbangi alunan musik yang melo, seolah-olah ia mengalirkan rasa sendu tiap baitnya. Sebuah pengalaman pribadi menambah rasa sendu yang menusuk relung sukma paling dalam bagi siapa yang mendengarnya, begitupun kiranya dengan aku.
Sahabat yang begitu dekat, yang begitu aku percaya, yang tiap waktu selalu berbagi suka dan duka merebut orang yang begitu aku sayang, dan aku cintai. Kehancuran  hati tak dapat aku bendung saat itu. Aku rasakan sakit yang tiada duanya, rasa perih yang begitu pedih mengorogoti tubuh ini. Disetiap hesah napas, udara seakan menyayat hati. Setiap detakan jantung, darah mengalirkan penderitaan tak berujung.
            Aku menerawan kejadian itu, sambil menatap langit-langit kamarku dan sesekali menghisap rokok yang hampir habis dalam jemari kasurku. Andainya waktu bisa berputar kembali, kejadian itu dapat terulang, kuingin perbaiki salah dan dosa yang telah aku perbuat, kuingin perbaiki kekurangan yang ada padaku, sehingga sahabat dan orang yang kusayang tak tega menyakitiku.
            Kisah inilah yang membuat aku suka dengan lagu melo khususnya lagu kenangan, apalagi, lagu yang sama dengan derita yang aku alami, tapi, “ya” itu semua adalah masa lalu buatku dan kuanggap sebagai pelajaran berharga dalam perjalanan hidupku.
            Kuingat kembali bahasa Khalil Gibran dalam bukunya “jiwa-jiwa pemborontak”.
“. . . cinta adalah hakikat keindahan jiwa, kepadanya pengorbanan diberikan tidak untuk diminta.”
Kalimat ini membuat aku tegar dan bersyukur. Aku sudah bisa berkorban untuk orang yang berharga dalam hidupku, yaitu orang yang kusayang dan sahabatku, karena cinta sejati pada hakikatnya adalah melihat orang yang kita sayang bahagia kita juga marasakan kebahagiaan.
            Tiba-tiba, “oe e ee, apa isseng nupikkiri intu? Menghayal tojeng.” Suara itu membuyarkan anganku. Dengan sentak aku berbalik dan berkata, “tenaja bos s ss.” Tyo : “lalu kenapa saya panggil-panggil tapi tidak menyahut?” Tiopun melanjutkan tanyanya padaku.
ABC : “aku lagi mikiran tugas kuliah yang bertumpuk-tumpuk.” Akupun menjawab dengan sedikit KEbohongan.
Tio langsung tersenyum dan berkata “punnakammaja a aa! Kau pasti memikirkan cewek to?”.
“tanre todong bellah. Masa orang segagah saya memikirkan cewek, seharusnya saya yang dipikirkan cewek.”. dengan tersenyum aku berkata memuji diri sendiri.
Tio : “kauja thee” sedikit mengalah dengan stekmen yang baru aku keluarkan. “kamu ada acara tidak?”. Tio lanjutkan tanyanya.
ABC : “tidak. Kenapa?”
Tio : “aku mau kerumahnya tante, temani aku ya?”
ABC : “boleh
Dalam hatiku, daripada saya di kos terus, memikirkan cinta yang hilang direbut sahabat, mending ikut ahhhh.
Tio : "tunggu sebentar yae". ..cm kata itu yang Tio lontarkan padamu, lalu melaju dengan cepat keluar kamar kosku dan berjalan menuju sebuah motor yang terparkir depan lorong setapak tak jauh dari pintu kamar kosku, akupun menjauhkan pandanganku dari sosoknya dan kembali menuju pintu di mana aku keluar tadi. Kurebahkan kembali tubuhku di kasur usang yang kumiliki satu-satunya dan melanjutkan anganku tentang derita sang kesepian.
            Dalam kesendirian aku rasakan kembali pedih itu tapi aku mencoba melawan sekuat hati, walaupun hasilnya tetap nihil, padahal aku sudah melawan sekuat tenaga dan sedikit memaksakan hatiku untuk melupakan kejadian itu.


“Hidup bukan apa yang kita harapkan
tapi hidup adalah apa yang kita jalani berguna tidak untuk orang lain.”
Persembahan aku oleh aku dan untuk aku.


Ab’bhue 01

Minggu, 02 September 2012


Gerimis ini seakan berbisik padaku
“masih ingatka kau dengan dya?”
Tentu kujawab
“ya, aku masih begitu mengingatnya”
“apa yang kau ingat tentang dya?”
“semuanya”
“yang paling kau ingat

yang paling kau ingat?”
“banyak kenangan tentang dya”
“Di antaranya?”
Aku masih begitu mengingatnya. ketika dya menangis saat kami akan dipisahkan oleh waktu, kungengam tanganya yang lembut, lalu aku bertanya:
apakah kita masih bisa bertemu?, apakah aku masih bisa mendengar suara tawamu?, apakah aku masih bisa melihatmu tersenyum?, apakah aku masih bisa mengengam tanganmu seperti sekarang?, tapi dya membusi, tak ada ekspresi sama sekali atas tanyaku itu. lalu kulanjutkan tanyaku padanya. Izinkan aku untuk menunggu jawaban atas semua tanya ini, apakah kau mengizinkanku? Dya berpaling tapi gengaman tanganya tak dilepasnya, makin erat jemarinya mengengam jemariku. ..

Lalu aku berkata
Terus bagaimana ini? Dyapun tak ada ekspresi. Kulihat matanya dya kembali berpaling
Ketika waktu semakin menyempit untuk memisahkan air matany mengalir. Lalu dya berkata. ..Kak aku sukaki, tapi aku tidak bisa jadi pacar kakak tapi ku isinkan kakak untuk mencintaiku. ..maaf kak. apakah kamu mencintaiku? Aku sukaki kak, aku benar-benar menyukai kakak, tapi aku tidak bisa jadi pacar kakak dan ku isinkan kakak untuk mencintaiku. ..

Jujur aku tak suka kalimat ini waktu itu

Tapi sekarang aku sangat menyukai kalimat itu sebelum dya mengatakan “aku tak bisa jadi pacarmu karena aku tidak mau”. ..
Kalimat itu yang terakhir di ucapkan padaku sebelum dya menghilang atau menghilangkan aku dari hatinya
Tak ada lagi kalimat,

“kak aku sukaki tapi aku tidak bisa jadi pacar kakak, maaf kaka aku benar minta maaf”
Aku rindu kalimat ini, sangat merindukanya. ..