Tampilkan postingan dengan label Nostalgia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nostalgia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 September 2012


Gerimis ini seakan berbisik padaku
“masih ingatka kau dengan dya?”
Tentu kujawab
“ya, aku masih begitu mengingatnya”
“apa yang kau ingat tentang dya?”
“semuanya”
“yang paling kau ingat

yang paling kau ingat?”
“banyak kenangan tentang dya”
“Di antaranya?”
Aku masih begitu mengingatnya. ketika dya menangis saat kami akan dipisahkan oleh waktu, kungengam tanganya yang lembut, lalu aku bertanya:
apakah kita masih bisa bertemu?, apakah aku masih bisa mendengar suara tawamu?, apakah aku masih bisa melihatmu tersenyum?, apakah aku masih bisa mengengam tanganmu seperti sekarang?, tapi dya membusi, tak ada ekspresi sama sekali atas tanyaku itu. lalu kulanjutkan tanyaku padanya. Izinkan aku untuk menunggu jawaban atas semua tanya ini, apakah kau mengizinkanku? Dya berpaling tapi gengaman tanganya tak dilepasnya, makin erat jemarinya mengengam jemariku. ..

Lalu aku berkata
Terus bagaimana ini? Dyapun tak ada ekspresi. Kulihat matanya dya kembali berpaling
Ketika waktu semakin menyempit untuk memisahkan air matany mengalir. Lalu dya berkata. ..Kak aku sukaki, tapi aku tidak bisa jadi pacar kakak tapi ku isinkan kakak untuk mencintaiku. ..maaf kak. apakah kamu mencintaiku? Aku sukaki kak, aku benar-benar menyukai kakak, tapi aku tidak bisa jadi pacar kakak dan ku isinkan kakak untuk mencintaiku. ..

Jujur aku tak suka kalimat ini waktu itu

Tapi sekarang aku sangat menyukai kalimat itu sebelum dya mengatakan “aku tak bisa jadi pacarmu karena aku tidak mau”. ..
Kalimat itu yang terakhir di ucapkan padaku sebelum dya menghilang atau menghilangkan aku dari hatinya
Tak ada lagi kalimat,

“kak aku sukaki tapi aku tidak bisa jadi pacar kakak, maaf kaka aku benar minta maaf”
Aku rindu kalimat ini, sangat merindukanya. ..

Jumat, 13 April 2012

Perpisahan Bukanlah Kehilangan


61  hari lebih terjajaki

ada banyak senyum teRcipta

diantara riangnya siang
di antara tawa gejolak kebersamaan




di sini....
tempat berteduhnya patriot muda
tempat menuang segala cita
seperti biru putih bajunya
seperti merah putih semangatnya


setelah lama merenda hari mengusung mimpi
berat terasa kami lepaskan 
Selamat tinggal cerita indah
perpisahan bukanlah kehilangan
hanya batas tipis antara kisah dan kenangan
Selamat tinggal pejuang muda
kobarkan semangat kebenaran di dadamu
jalan panjang yang masih terbentang
menanti pijakkan kokoh kakimu
berlarilah menggapainya
melajulah. ..

Dari jauh kami menanti kabar indah di atas kesuksesan
Kehidupan remaja kalian. ..
Berat rasa mengucapkan kalimat ini
Kalimat yang  ku rasakan sebuah belati yang menyayat hati.
 Seakan mematri menggoreskan rasa yang selalu menghantui,

Perlahan namun pasti ia menghampiri

Laksana racun yang mengalir di dalam darah ia menghentikan denyut nadi
Haruska kalimat ini kuucapkan kepada anak-anak yang terlanjur kusayang,

Haruska. ..kenapa harus. ..kenapa ya tuhan. ..
Ah h hh uh h h hh
Selamat tinggal
Selamat tinggal
Selamat tinggal pejuang muda. ..






Jangan pernah menyesal
karena pernah mengenal

Kami kakaK-kakakmu. ..
Lambat sang waktu
Tak ada yang terbukti
Semua berlalu….
Seiring bergulirnya waktu

detak jam berlalu

Tapi….
Saat-saat kakak datang
Semua berubah
Dan setiap perubahan
Terasa indah

Kakak buat semua berarti
Kakak buat perubahan kepada kami
Kakak buat kami mengerti
Akan semua yang belum kami ketahui

Kakak ajarkan pada kami
Semua yang kau ketahui
Tapi kini kau pergi
Semua yang telah kakak beri….

Kan kami jaga
Kan kami rawat
Agar kalian mengerti
Bahwa hadirmu….
Sangat berarti tuk kami

Hadirmu….
Ku tunggu
Sampai kau kembali
Selamat jalan….
Jangan lupakan kami

Kakak lah….
Mahasiswa KKK ku
Kakak lah….
Pahlawan reformasi ku

Selamat tinggal kakakku tersayang
Ab’bhue

Waktu itu dia masih ada
Berhari-hari kami melihat
Senyum indahnya
Tutur kata dan sapanya

Tetapi kini dia ingin pergi jauh
Meninggalkan kami semua
Hati ini sedih
Namun tak kan ku lupakan selalu

Selamat tinggal kakak ku yang tersayang
Jangan lupakan diri kami
Kami akan selalu mengingat mu
Kami ucapkan banyak terima kasih

Jangan kakak lupakan
Anak-anak SMP Negeri 2 Watansoppeng
Karena anak SMP Negeri 2 Watansoppeng
sayang sama kakak.


SELAMAT TINGGAL ANAK-ANAK KKN
Ab’bhue





Waktu ini terus berjalan
Meski perlahan tapi pasti
Melenyapkan sebuah kisah
Antara kita

Aku tak pernah menginginkan ini terjadi
Rasanya waktu ini cepat sekali berputar
Andaikan aku diberi waktu 1 hari lagi
Aku pasti takkan menyia-nyiakannya

Saat ku tatap wajah kalian kawan tuk terakhir kalinya
Terputar kembali dalam benakku
Memori–memori indah kebersamaan kita
Dulu…..
ku susuri setiap keluhku denganmu
setiap tawa, canda, dan airmata
kita labuhkan bersama
ku ingin kalian ada di sini untukku selamanya
Ku ingin aku ada di sini untuk kalian selamnya
tapi……
angan tinggallah angan
waktu dan ruang tak mengisinkan itu
Detakan waktu yang memaksa kita untuk sama mengucapkan
Selamat tinggal
Selamat tinggal kawan

Hmm….. kini, di tempat ini
Aku hanya dapat menatap raut wajah kalian

Kawan
Jangan pernah menyesal
karena pernah mengenalku
kalian telah menciptakan hari yang ajaib bagimu
kenang aku dalam langkah yang ceriah
Jangan pernah melupakan
bahwa kita pernah bersenda tawa
mengukir kisah menabjubkan

Bagiku kalian adalah keindahan
bagimu kalian adalah kehebatan
kita selalu hanyut dalam kebersamaan
terhanyut mimpi yang kelak harus terjadi
kawan
angan tinggallah angan
waktu dan ruang tak mengisinkan kita terus bersenda gurau
Detakan waktu yang memaksa kita untuk sama-sama mengucapkan
Selamat tinggal
Selamat tinggal kawan terbaikku
Kita bertemu lagi entah kapan
bungkus pengalaman yang kita kenal
menceritakannya kembali
waktu kita bertemu lagi
……
kawan yang tidak pernah menjadi kawan
kekasih yang tidak pernah menjadi kekasih
sampai jumpa dengan cerita yang lebih indah
di kemudian hari……….
Ucapanku terima kasih untuk waktu yang kalian sisipkan
dari kehidupan yang tersisah. ..
berikan maaf bagiku jika kehidupan kalian tak indah di dekatku
maaf, maaf, maaf dan maaf. ..
good bay kisah indahku
good bay
good bay. ...

Minggu, 25 Maret 2012

Goresan buat Lalabata Rilau


Abbhue

Bus melaju melewati jalan berliku, menelusuri hutan dengan pohon menjulang. Tebing dan jurang sili berganti jadi pemandangan perjalanan yang melelahkan. Bagitu jauh tujuan bus ini, terasa sangat jauh, jauh dari keluarka, jauh dari  kota kelahiranku, jauh dari kota kebanggaanku, jauh dari teman-teman dekatku. Akhirnya bus berhenti di sebuah kota kecil di pengunungan yang beratus kilo dari awal perjalanannya. Sebuah kota yang di tumbuhi popohonan besar yang berjejer dengan rapi di pingil jalan dan yang paling menabjupkan adalah pohon-pohon besar itu dihuni oleh kelelawar-kelelawar yang berukuran besar. Beratus-ratus, tidak, mungkin beribu-ribu, yae, beribu-ribu kelelawar hinggap di ranting pohon-pohon besar itu. Sunggu pemandangan yang teramat langkah.
Bus itupun pergi tampa penumpang yang tadinya ada berpulu-pulu orang. 1, 2, dan 3 bus, semuanya pergi meninggalkan kota kecil yang menabjupkan itu dengan penumpang hanya 2 orang yaitu kernek yang menemani sang sopir untuk kembali pulang ke kota metropolitan di indonesia timur.
Kota ini akan menjadi ruang bagi penumpang bus itu untuk melewati waktu beberapa bulan, tepatnya 2-3 bulan ke depan. Mobil-mobil kecil dan mewah berceceran menunggu penumpang yang dari tadi mereka tunggu. mobil kecil memisahkan penumpang bus itu menjadi beberapa orang saja dan memisahkan sahabat, teman, dan kawan yang masih sempat berjanda gurau di atas bus. Satu persatu mobil itu pergi dengan penumpang dan barang2 bawaan ke tujuan yang berbeda.
Melewati jalur keluar dengan tujuan sebuah rumah persingahan beberapa orang asing di kota kecil ini. Nampak dari kejauhan sebuah rumah besar dan pekangan yang seadanya tempat tujuan mobil yang di tumpanggi.
Waoh, rumah yang belum jadi, rumah yang kotor, rumah yang tidak di rawat dan banyak hal yang membuat orang jiji untuk menginjakan kaki didalamnya. Rumah yang selama 10 tahun tak berpenghuni dan pastinya tak terawat, kini mendadak jadi ramai oleh suara asing di telinga tetangga dan berlansung terus-menerus selama 2 bulan kedepan. Wajah yang kusut dari orang asing ini tampak begitu nyata, malumlah perjalanan jauh itu menguras banyak tenaga, bukan hanya tenaga tapi pikiran mereka juga ikut melayang menamba raut wajah mereka tidak enak untuk dinikmati lama-lama.
Beberapa orang sudah mulai sibuk membersihan ruang demi ruang dari rumah baru mereka, huniang mereka sementara. Bantuang datang dari tetanga baru, keluarga baru, orang tua baru dan saudara baru. Ya, mereka sekarang sudah menjadi keluarga di tempat yang asing ini, layaknya keluarga yang tinggal 1 atap mereka sama bekerja untuk memperindah istana baru dan sementara untuk keluarga ini.
#
Indah terasa kerajaan keluarga ini setelah 4 hari mereka merenopasi sesuai keinginan. Ya, 4 hari, waktu yang lumayan lama bukan?
Keindahan itu tak begitu memuaskan hati keluarga ini. Keluarga, sahabat, kota di mana mereka tinggal sebelumnya adalah alasan untuk tidak menikmati ke indahan baru ini. Suara HP berdering seli berganti menanyakan kabar 1 persatu penghuni rumah dari kerabat yang di tinggalkan. Begitu rindu mereka dengan keluarganya, air matapun tampa di sadari menetes berkali-kali bila suara yang di rindukan terdengan dari kejauhan lewat teknologi ini.
Ingin rasanya kembali detik ini juga berjumpa dengan Ibu, ayah, kakak dan adik tercinta. Beda rasanya tinggal dengan orang-orang asing, merasa tidak nyaman dan tidak aman. Kebiasaan melewati waktu di rumah sendri begitu nyata untuk dirindukan. “aku ingin pulang, aku ingin tidur di kasur usangku sambil memeluk bantal gulingku sendiri”. Inilah pikiran mereka semua.

#
Ruang dari waktu ini dah berdetak begi lama, Asing menjadi intim. Pilu menjadi riang. Air mata berganti tawa seiring kegiatan-kegiatan yang di lewati bersama. Raut majah sendu berubah riang, ngelegar tawa menghiasi rumah indah ini. Begitu bedah, bahkan sangat berbeda saat pertama kali menginjaka kaki di kota kecl ini. Dari jauh haripun sebelum mereka berangkat ke kota ini. Rasa kecewa kenapa harus ke kota ini terus membayangi pikiran mereka,
“aku tidak mau, aku tidak ikut, maunya di kotaku saja”.
Kata ini sering kudengar dari mulut teman-teman, dari mulutkupun sering kuucapkan.
Pikiran berdebat hebat antara ikut atau tidak, tapi apapun alasanya harus tetap ikut, denga langkah ngontai kujing-jing tas dan koper yang penuh dengan barang untuk di pakai di kota tujuan sebagai tugas dan wajib untuk dilaksanakan. Salam perpisahan terakhir kepada keluarga kulantungkan lewat telpon saja, kecuali sama kakak yang mengantar sampai ke tempat pemberangkatan. Air mata sedikit berderai dari lelaki yang kuat ini begitupula dengan kakak tercinta
“salam ma Ibu, Ayah, kakak, dan adek. Sampaikan maafku sama mereka,”
ungkapan terakhir sebagai salam perpisahan untuk keluargaku di kampung tempatku dilahirkan.
#
Keintiman kian waktu kian bertamba, seiring waktu yang terus berdetak. Kukenal orang asing ini dengan kepribadian masing-masing. Ramah, baik, dan penuh tanggung jawab, itu mereka. Rumah indah ini terus menerus melahirkan tawa dari canda tiap detak.x. Setiap kegiatan di lakukan bersama layaknya keluarga. Main, bekerja, dan santai membuat lingkungan asing ini menjadi tidak asing. Betul, tidak terasa ada orang asing di sini. Mereka semua menerima satu sama lain. Saling mengerti, saling menjaga, dan saling memahami. Indah terasa ruang waktu di tempat asing ini. Tak perna berhenti rasa syukur sudah di takdirkan kenal dengan orang-orang hebat seperti kalian, wahai orang asing.
Kalian sudah berbagi waktu denganku, sudah menyisipkan hidup untuk bersamaku, sudah memberikan ke indahan baru. Begitu indah kebersamaan ini hingga tak terasa ada orang-orang merindukan akan kehadiran kami dari jauh. Ingin rasa terus bersama berbagi kehidupan dan nafas perjuangan, melewati hari-hari tampa batas ruang.
Terimalah ucapan terima kasihku keluarga baruku. Kalian adalah ayah, ibu, saudara buatku saat ini. Kalian adalah keindahan dikala hati ini merasa risau untuk berdeyut. Kalian adalah aliran darah dikala jantungku tak berdetak, kalian adalah langkah kaki dikala telapaknya kesakitan menghantam pilunya hidup, kalian adalah nafas kehidupan dikala hidungku sesak menghirup udara penderitaan. Kalian adalah semua kehidupan saat ini buatku.
“Terima kasih Kak Wiah, Pak Basri, Ibu Sinar, Acank, Asis, Ady, Ardy, Lina kuadrat, Ulfa, dan Ibu Linda”.
Lalabata Rilau, 25 Maret 2012.
Kulanjutkan nanti. ..