Minggu, 23 September 2012

Kebahagian yang Menyakitiku

“Masa silam telah terbang
masa kini belumlah datang
masa kita hanyalah sepenggal titik kecil dimasa kini. . . .”

            Untaian puisi di atas, puisi kaum sufi karya Gulshan I Ras, sebagai bait yang begitu jelas teringat dalam relung sanubari yang tak sanggup aku realisasikan dalam hidupku. Dikala kehampaan mulai menari dalam anganku, kesepian kembali merajut pribadiku, seribu tanya terpatri dalam jiwa, menanyakan takdir dari ILAHI. “kapan aku bisa melupakanya?. Tuhan bantu hambamu ini melupakannya.”
            Kembali kurajut isi hati, ditemani sebatang rokok yang mengeluarkan asap mengepul terhempas tiupan angin, setiap hisapan rokok di tanganku entah mengapa menjadi begitu berarti bagiku dikala kusendiri, seolah-olah ia melambungkan anganku. Mengoreskan masa yang akan datang dalam pikiran yang terlihat begitu sempurna, meninggalkan alam nyata yang begitu hampa dan kosong, perih dan pedih. Kupadukan rokok urbanku dengan secangkir kopi susu ditambah cemilan potongan-potongan ubi goreng yang begitu nikmat, sembari mendengarkan tembang-tembang kenangan favoritku dari MP3 di henpon sambil sesekali mengikuti syair yang begitu menyentu dalam jiwa.
“ . . . . Hatiku terluka karena asmara,
dia yang kusayang merebut hatinya.
Di depan mata dia belai mesra dia karibku sendiri.
Biarlah kupergi membawah lara di hati
Kalau itu jalan terbaik untukmu
Tak kau hiraukan hancurnya hatiku
Luka ini takkan ada obatnya. . . .”
Syair lagu dari Tommi J Pisa begitu menyentuh kalbu, mengikuti kata hati, menyelami kekosongan jiwa. Huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat kusimak dengan sangat teliti.
Begitu indah terpatri dipendengaranku, suara yang merdu diimbangi alunan musik yang melo, seolah-olah ia mengalirkan rasa sendu tiap baitnya. Sebuah pengalaman pribadi menambah rasa sendu yang menusuk relung sukma paling dalam bagi siapa yang mendengarnya, begitupun kiranya dengan aku.
Sahabat yang begitu dekat, yang begitu aku percaya, yang tiap waktu selalu berbagi suka dan duka merebut orang yang begitu aku sayang, dan aku cintai. Kehancuran  hati tak dapat aku bendung saat itu. Aku rasakan sakit yang tiada duanya, rasa perih yang begitu pedih mengorogoti tubuh ini. Disetiap hesah napas, udara seakan menyayat hati. Setiap detakan jantung, darah mengalirkan penderitaan tak berujung.
            Aku menerawan kejadian itu, sambil menatap langit-langit kamarku dan sesekali menghisap rokok yang hampir habis dalam jemari kasurku. Andainya waktu bisa berputar kembali, kejadian itu dapat terulang, kuingin perbaiki salah dan dosa yang telah aku perbuat, kuingin perbaiki kekurangan yang ada padaku, sehingga sahabat dan orang yang kusayang tak tega menyakitiku.
            Kisah inilah yang membuat aku suka dengan lagu melo khususnya lagu kenangan, apalagi, lagu yang sama dengan derita yang aku alami, tapi, “ya” itu semua adalah masa lalu buatku dan kuanggap sebagai pelajaran berharga dalam perjalanan hidupku.
            Kuingat kembali bahasa Khalil Gibran dalam bukunya “jiwa-jiwa pemborontak”.
“. . . cinta adalah hakikat keindahan jiwa, kepadanya pengorbanan diberikan tidak untuk diminta.”
Kalimat ini membuat aku tegar dan bersyukur. Aku sudah bisa berkorban untuk orang yang berharga dalam hidupku, yaitu orang yang kusayang dan sahabatku, karena cinta sejati pada hakikatnya adalah melihat orang yang kita sayang bahagia kita juga marasakan kebahagiaan.
            Tiba-tiba, “oe e ee, apa isseng nupikkiri intu? Menghayal tojeng.” Suara itu membuyarkan anganku. Dengan sentak aku berbalik dan berkata, “tenaja bos s ss.” Tyo : “lalu kenapa saya panggil-panggil tapi tidak menyahut?” Tiopun melanjutkan tanyanya padaku.
ABC : “aku lagi mikiran tugas kuliah yang bertumpuk-tumpuk.” Akupun menjawab dengan sedikit KEbohongan.
Tio langsung tersenyum dan berkata “punnakammaja a aa! Kau pasti memikirkan cewek to?”.
“tanre todong bellah. Masa orang segagah saya memikirkan cewek, seharusnya saya yang dipikirkan cewek.”. dengan tersenyum aku berkata memuji diri sendiri.
Tio : “kauja thee” sedikit mengalah dengan stekmen yang baru aku keluarkan. “kamu ada acara tidak?”. Tio lanjutkan tanyanya.
ABC : “tidak. Kenapa?”
Tio : “aku mau kerumahnya tante, temani aku ya?”
ABC : “boleh
Dalam hatiku, daripada saya di kos terus, memikirkan cinta yang hilang direbut sahabat, mending ikut ahhhh.
Tio : "tunggu sebentar yae". ..cm kata itu yang Tio lontarkan padamu, lalu melaju dengan cepat keluar kamar kosku dan berjalan menuju sebuah motor yang terparkir depan lorong setapak tak jauh dari pintu kamar kosku, akupun menjauhkan pandanganku dari sosoknya dan kembali menuju pintu di mana aku keluar tadi. Kurebahkan kembali tubuhku di kasur usang yang kumiliki satu-satunya dan melanjutkan anganku tentang derita sang kesepian.
            Dalam kesendirian aku rasakan kembali pedih itu tapi aku mencoba melawan sekuat hati, walaupun hasilnya tetap nihil, padahal aku sudah melawan sekuat tenaga dan sedikit memaksakan hatiku untuk melupakan kejadian itu.


“Hidup bukan apa yang kita harapkan
tapi hidup adalah apa yang kita jalani berguna tidak untuk orang lain.”
Persembahan aku oleh aku dan untuk aku.


Ab’bhue 01

Tidak ada komentar:

Posting Komentar