“Masa
silam telah terbang
masa
kini belumlah datang
masa
kita hanyalah sepenggal titik kecil dimasa kini. . . .”
Untaian
puisi di atas, puisi kaum sufi karya Gulshan I Ras, sebagai bait yang begitu
jelas teringat dalam relung sanubari yang tak sanggup aku realisasikan dalam
hidupku. Dikala kehampaan mulai menari dalam anganku, kesepian kembali merajut
pribadiku, seribu tanya terpatri dalam jiwa, menanyakan takdir dari ILAHI. “kapan aku bisa melupakanya?. Tuhan bantu hambamu
ini melupakannya.”
Kembali
kurajut isi hati, ditemani sebatang rokok yang mengeluarkan asap mengepul
terhempas tiupan angin, setiap hisapan rokok di tanganku entah mengapa menjadi
begitu berarti bagiku dikala kusendiri, seolah-olah ia melambungkan anganku.
Mengoreskan masa yang akan datang dalam pikiran yang terlihat begitu sempurna,
meninggalkan alam nyata yang begitu hampa dan kosong, perih dan pedih.
Kupadukan rokok urbanku dengan secangkir kopi susu ditambah cemilan potongan-potongan
ubi goreng yang begitu nikmat, sembari mendengarkan tembang-tembang kenangan
favoritku dari MP3 di henpon sambil sesekali mengikuti syair yang begitu
menyentu dalam jiwa.
“ . . . . Hatiku terluka
karena asmara,
dia
yang kusayang merebut hatinya.
Di
depan mata dia belai mesra dia karibku sendiri.
Biarlah
kupergi membawah lara di hati
Kalau
itu jalan terbaik untukmu
Tak
kau hiraukan hancurnya hatiku
Luka
ini takkan ada obatnya. . . .”
Syair lagu dari Tommi J Pisa
begitu menyentuh kalbu, mengikuti kata hati, menyelami kekosongan jiwa. Huruf
demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat kusimak dengan sangat teliti.
Begitu indah terpatri
dipendengaranku, suara yang merdu diimbangi alunan musik yang melo, seolah-olah
ia mengalirkan rasa sendu tiap baitnya. Sebuah pengalaman pribadi menambah rasa
sendu yang menusuk relung sukma paling dalam bagi siapa yang mendengarnya,
begitupun kiranya dengan aku.
Sahabat yang begitu dekat,
yang begitu aku percaya, yang tiap waktu selalu berbagi suka dan duka merebut
orang yang begitu aku sayang, dan aku cintai. Kehancuran hati tak dapat aku bendung saat itu. Aku
rasakan sakit yang tiada duanya, rasa perih yang begitu pedih mengorogoti tubuh
ini. Disetiap hesah napas, udara seakan menyayat hati. Setiap detakan jantung,
darah mengalirkan penderitaan tak berujung.
Aku
menerawan kejadian itu, sambil menatap langit-langit kamarku dan sesekali
menghisap rokok yang hampir habis dalam jemari kasurku. Andainya waktu bisa
berputar kembali, kejadian itu dapat terulang, kuingin perbaiki salah dan dosa
yang telah aku perbuat, kuingin perbaiki kekurangan yang ada padaku, sehingga
sahabat dan orang yang kusayang tak tega menyakitiku.
Kisah
inilah yang membuat aku suka dengan lagu melo khususnya lagu kenangan, apalagi,
lagu yang sama dengan derita yang aku alami, tapi, “ya” itu semua adalah masa
lalu buatku dan kuanggap sebagai pelajaran berharga dalam perjalanan hidupku.
Kuingat
kembali bahasa Khalil Gibran dalam bukunya “jiwa-jiwa pemborontak”.
“. . . cinta adalah hakikat keindahan jiwa, kepadanya pengorbanan diberikan tidak untuk diminta.”
Kalimat ini membuat aku tegar dan bersyukur. Aku sudah bisa berkorban untuk orang yang berharga dalam hidupku, yaitu orang yang kusayang dan sahabatku, karena cinta sejati pada hakikatnya adalah melihat orang yang kita sayang bahagia kita juga marasakan kebahagiaan.
“. . . cinta adalah hakikat keindahan jiwa, kepadanya pengorbanan diberikan tidak untuk diminta.”
Kalimat ini membuat aku tegar dan bersyukur. Aku sudah bisa berkorban untuk orang yang berharga dalam hidupku, yaitu orang yang kusayang dan sahabatku, karena cinta sejati pada hakikatnya adalah melihat orang yang kita sayang bahagia kita juga marasakan kebahagiaan.
Tiba-tiba,
“oe e ee, apa isseng nupikkiri intu? Menghayal tojeng.” Suara itu membuyarkan
anganku. Dengan sentak aku berbalik dan berkata, “tenaja bos s ss.” Tyo : “lalu
kenapa saya panggil-panggil tapi tidak menyahut?” Tiopun melanjutkan tanyanya
padaku.
ABC : “aku lagi mikiran tugas kuliah yang
bertumpuk-tumpuk.” Akupun menjawab dengan sedikit KEbohongan.
Tio langsung tersenyum dan berkata
“punnakammaja a aa! Kau pasti memikirkan cewek to?”.
“tanre todong bellah. Masa orang segagah
saya memikirkan cewek, seharusnya saya yang dipikirkan cewek.”. dengan
tersenyum aku berkata memuji diri sendiri.
Tio : “kauja
thee” sedikit mengalah dengan stekmen yang baru aku keluarkan. “kamu ada acara
tidak?”. Tio lanjutkan tanyanya.
ABC : “tidak. Kenapa?”
Tio : “aku mau kerumahnya tante, temani aku
ya?”
ABC : “boleh”
Dalam hatiku, daripada saya di kos terus, memikirkan cinta yang hilang direbut sahabat, mending
ikut ahhhh.
Tio : "tunggu sebentar yae". ..cm
kata itu yang Tio lontarkan padamu, lalu melaju dengan cepat keluar kamar kosku
dan berjalan menuju sebuah
motor yang terparkir depan lorong setapak tak jauh dari pintu kamar kosku,
akupun menjauhkan pandanganku dari sosoknya dan kembali menuju pintu di mana
aku keluar tadi. Kurebahkan kembali tubuhku di kasur usang yang kumiliki satu-satunya dan melanjutkan anganku
tentang derita sang kesepian.
Dalam
kesendirian aku rasakan kembali pedih itu tapi aku mencoba melawan sekuat hati,
walaupun hasilnya tetap nihil, padahal aku sudah melawan sekuat tenaga dan
sedikit memaksakan hatiku untuk melupakan kejadian itu.
“Hidup bukan apa yang kita harapkan
tapi hidup adalah apa yang kita jalani
berguna tidak untuk orang lain.”
Persembahan aku oleh aku dan untuk aku.
Ab’bhue 01
Tidak ada komentar:
Posting Komentar