Tampilkan postingan dengan label Pilunya Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pilunya Hidup. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Desember 2012

Galau Terakhir "ngarap"


Kutingalkan malam dengan menitipkan gunda hati
Kumelangkah tegap menyambut mentari indah
Tetaplah di sana (derita)
Jangan kembali (pilu)
Lenyaplah bersama pekat malam (sedih)
Sinar mentari akan membuatmu gosong jika masih mendekat
Sinar mentari akan membinasakan jika malam tak sanggup mengubur
Binasalah seiring lantunan azan subuh
Luluhlantaklah bersama datangnya embung pagi
Musnalah ketika fajar menyingsing. ..

Kamis, 20 Desember 2012


Beribu Warna dari Senyum dan Lisanmu


Bila kususuri hidupku detik demi detik
Mungkin dirimu yang paling banyak memberikan warna

Walau waktu hanya singkat
Tapi,
Dirimu mampu menciptakan beribu warna dari senyum dan lisanmu

Walau waktu hanya memberikan kesempata secuil
Menikmati senyum manis dan syahdu syair lisanmu
Walau kau telah melangkah
Hilang dibalik kilauan warna yang kau ciptakan
Tapi
Beribu warna itu
Masih menghuni denyut jantun dan langkah ini




Akhirnya,
Warna indah itu akan membuat tetesan rindu
Berujung pilu yang teramat sakit
Indah warna itu akan tetap di sini
Dalam hati ini, sebagai kenangan terindah
Maaf. ..                                                                                             
Jika rindu ini tetap tertujuh padamu
Walau kutau warna itu, bukan lagi untukku.
Makassar
Ab’bhue

Senin, 24 September 2012

Q Ragu tp itu Pasti


Apa yang membuatmu hilang? ??
Kegelapan malamka yang membuatmu lenyap! !!
Ah, ,,
Pasti bukan, ,,
Kau bukan kelelawar yang suka dengan hitam pekatnya bumi.

Jangan-jangan silau mentari yang membuatmu tak terlihat! !!
Bisa jadi tu, ,,
Kaukan suka dengan kesucian sinar yang putih itu, ,,
Tapi, ,,
Sucika sinar itu bila tak membuatmu terlihat lagi olehku! !!
Saya rasa tidak, ,,
Itu malah dona karena  leburan kesucian itu merebutmu dariku.
Tak sepenuhnya benar si, ,,
Semuanya masih keraguan.
Tak ada yang pasti dari ungkapanku.
Cuma kamu yang bisa pastikan itu! !!

Tapi, ,,
Haruskah aku percaya dengan kepastian itu kalau membuatku sakit! !!
Aku masih ragu, ,,
Mungkin Cuma waktu yang bisa membuatnya pasti.
Aku sangat yakin itu.

Tapi, ,,
Berapa lama aku menungu kepastian itu? ??
Aku tak yakin bisa menungunya! !!
Karena bisa jadi besok aku sudah hancur, ,,
Tampa tau mana yang benar, ,,
Mana yang betul, ,,
Mana baik, ,,
Mana halal, ,,
Padahal aku masih mencari semua itu di sisi waktuku yang berdetak ini. ..

Makassar, 24 september 2012
Ab’bhue

Minggu, 23 September 2012

Kebahagian yang Menyakitiku

“Masa silam telah terbang
masa kini belumlah datang
masa kita hanyalah sepenggal titik kecil dimasa kini. . . .”

            Untaian puisi di atas, puisi kaum sufi karya Gulshan I Ras, sebagai bait yang begitu jelas teringat dalam relung sanubari yang tak sanggup aku realisasikan dalam hidupku. Dikala kehampaan mulai menari dalam anganku, kesepian kembali merajut pribadiku, seribu tanya terpatri dalam jiwa, menanyakan takdir dari ILAHI. “kapan aku bisa melupakanya?. Tuhan bantu hambamu ini melupakannya.”
            Kembali kurajut isi hati, ditemani sebatang rokok yang mengeluarkan asap mengepul terhempas tiupan angin, setiap hisapan rokok di tanganku entah mengapa menjadi begitu berarti bagiku dikala kusendiri, seolah-olah ia melambungkan anganku. Mengoreskan masa yang akan datang dalam pikiran yang terlihat begitu sempurna, meninggalkan alam nyata yang begitu hampa dan kosong, perih dan pedih. Kupadukan rokok urbanku dengan secangkir kopi susu ditambah cemilan potongan-potongan ubi goreng yang begitu nikmat, sembari mendengarkan tembang-tembang kenangan favoritku dari MP3 di henpon sambil sesekali mengikuti syair yang begitu menyentu dalam jiwa.
“ . . . . Hatiku terluka karena asmara,
dia yang kusayang merebut hatinya.
Di depan mata dia belai mesra dia karibku sendiri.
Biarlah kupergi membawah lara di hati
Kalau itu jalan terbaik untukmu
Tak kau hiraukan hancurnya hatiku
Luka ini takkan ada obatnya. . . .”
Syair lagu dari Tommi J Pisa begitu menyentuh kalbu, mengikuti kata hati, menyelami kekosongan jiwa. Huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat kusimak dengan sangat teliti.
Begitu indah terpatri dipendengaranku, suara yang merdu diimbangi alunan musik yang melo, seolah-olah ia mengalirkan rasa sendu tiap baitnya. Sebuah pengalaman pribadi menambah rasa sendu yang menusuk relung sukma paling dalam bagi siapa yang mendengarnya, begitupun kiranya dengan aku.
Sahabat yang begitu dekat, yang begitu aku percaya, yang tiap waktu selalu berbagi suka dan duka merebut orang yang begitu aku sayang, dan aku cintai. Kehancuran  hati tak dapat aku bendung saat itu. Aku rasakan sakit yang tiada duanya, rasa perih yang begitu pedih mengorogoti tubuh ini. Disetiap hesah napas, udara seakan menyayat hati. Setiap detakan jantung, darah mengalirkan penderitaan tak berujung.
            Aku menerawan kejadian itu, sambil menatap langit-langit kamarku dan sesekali menghisap rokok yang hampir habis dalam jemari kasurku. Andainya waktu bisa berputar kembali, kejadian itu dapat terulang, kuingin perbaiki salah dan dosa yang telah aku perbuat, kuingin perbaiki kekurangan yang ada padaku, sehingga sahabat dan orang yang kusayang tak tega menyakitiku.
            Kisah inilah yang membuat aku suka dengan lagu melo khususnya lagu kenangan, apalagi, lagu yang sama dengan derita yang aku alami, tapi, “ya” itu semua adalah masa lalu buatku dan kuanggap sebagai pelajaran berharga dalam perjalanan hidupku.
            Kuingat kembali bahasa Khalil Gibran dalam bukunya “jiwa-jiwa pemborontak”.
“. . . cinta adalah hakikat keindahan jiwa, kepadanya pengorbanan diberikan tidak untuk diminta.”
Kalimat ini membuat aku tegar dan bersyukur. Aku sudah bisa berkorban untuk orang yang berharga dalam hidupku, yaitu orang yang kusayang dan sahabatku, karena cinta sejati pada hakikatnya adalah melihat orang yang kita sayang bahagia kita juga marasakan kebahagiaan.
            Tiba-tiba, “oe e ee, apa isseng nupikkiri intu? Menghayal tojeng.” Suara itu membuyarkan anganku. Dengan sentak aku berbalik dan berkata, “tenaja bos s ss.” Tyo : “lalu kenapa saya panggil-panggil tapi tidak menyahut?” Tiopun melanjutkan tanyanya padaku.
ABC : “aku lagi mikiran tugas kuliah yang bertumpuk-tumpuk.” Akupun menjawab dengan sedikit KEbohongan.
Tio langsung tersenyum dan berkata “punnakammaja a aa! Kau pasti memikirkan cewek to?”.
“tanre todong bellah. Masa orang segagah saya memikirkan cewek, seharusnya saya yang dipikirkan cewek.”. dengan tersenyum aku berkata memuji diri sendiri.
Tio : “kauja thee” sedikit mengalah dengan stekmen yang baru aku keluarkan. “kamu ada acara tidak?”. Tio lanjutkan tanyanya.
ABC : “tidak. Kenapa?”
Tio : “aku mau kerumahnya tante, temani aku ya?”
ABC : “boleh
Dalam hatiku, daripada saya di kos terus, memikirkan cinta yang hilang direbut sahabat, mending ikut ahhhh.
Tio : "tunggu sebentar yae". ..cm kata itu yang Tio lontarkan padamu, lalu melaju dengan cepat keluar kamar kosku dan berjalan menuju sebuah motor yang terparkir depan lorong setapak tak jauh dari pintu kamar kosku, akupun menjauhkan pandanganku dari sosoknya dan kembali menuju pintu di mana aku keluar tadi. Kurebahkan kembali tubuhku di kasur usang yang kumiliki satu-satunya dan melanjutkan anganku tentang derita sang kesepian.
            Dalam kesendirian aku rasakan kembali pedih itu tapi aku mencoba melawan sekuat hati, walaupun hasilnya tetap nihil, padahal aku sudah melawan sekuat tenaga dan sedikit memaksakan hatiku untuk melupakan kejadian itu.


“Hidup bukan apa yang kita harapkan
tapi hidup adalah apa yang kita jalani berguna tidak untuk orang lain.”
Persembahan aku oleh aku dan untuk aku.


Ab’bhue 01

Rabu, 04 Juli 2012


Tentang rindu kusam
Tentang cinta terbuang
Mengutip satu namamu di antara keluh kesah
Gundah gelisah, air mata, dan lara. ..

Masihkah ada sedikit senyum darimu
Di batas penantianku yang kini makin terbata
Jika masih ada ruang di hatimu
Untukku,
Sedikit saja, tolong bicaralah
Pada tanah membentang
Pada pohon-pohon rindang
Dan angin yang mengusik keangkuhan. ..

Setidaknya biar ada tanda yg bisa kubaca dan kuraba
Janganlah sepi yang hadir
Janganlah semu yang membeku
Karena tanda itu akan menuntungkun berjalan menuju arah mana. ..

Minggu, 22 April 2012

SMS untukmu



“Kak’, ada yang mau aku tanyakan”
Tiba­-tiba suara perempuan menengurku dengan sentak, tapi aku tak kanget kerana sejak tadi kami memeng bersama dalam kamar kecil ini dengan kesibukan masing-masing. 2 buah laptop ada di depan kami berdua dengan suaranya yang super berisik “Tak takkk takkk”, suara itu berulang kami dengar baik dari suara jari lentiknya yang nindi abjak-abjak dari keibour laptopnya dan cari tangan kasarkupun melakukan hal yang sama pada laptop dihadapanku. Kami berbagi job untuk mengerjakan tugas yang sama, yaitu tugas akhir dari perjalanan kami di kota kecil yang indah ini.
“Mau tanya apa dek?”
“Tidak jadi kak”                                                                                                                                                                         
“Ko gitu. tanya saja, tapi jangan pertanyaan yang sulit na. Kalau 1 + 1 si bolehlah kau tanyakan dek”
“Hahahaaa.”
“Kakak itu berjanda terus deh”
Akupun tersenyum melihatnya agak serius kali ini. Padahal biasanya dia yang paling sering berjanda di antara keluarga barunya di kota kecil ini. Dya yang paling riang di antara keluarga baru di sini. Akupun merasa bingun, kira-kira apa ya yang dimau tanyakan kok serius begitu.
“Tanya saja dek, tidak perlu malu-malu”
Kumulai percakapan yang sempat terputus oleh lamunan yang tak kunjung menerka atas pertanyaan yang ingin dia lontarkan.
“Bagaimana memulainya kakak die, aku bingung”
“Ko gitu si. Biasa.x orang itu memulainya dari angka 1 dek”
“Hehheee. ..”
“Kakak berjanda terus. Aku tidak jadi bertanya ah”
“Apa si dek. Aku penasaran nie”
“Nanti Aku SMS kakak aja de”
“Ko SMS segala si dek, kan aku ada di sini”
“Nanti aku SMS kak”
Tok tok tookkk
“Assalamu alaikum”
“Waalaukum mussalam”
Aku dan dia menjaWab dengan serentak salam dari teman yang baru datang untuk membantu kami mengerjakan laporan terakhir perjalanan kami di kota kecil ini, laporan segala aktivitas yang kami lakukan mulai dr awal sampai akhir. Kami bertiga dah 3 malam mengerjakan laporan ini tapi tak kunjung selesainya juga padahal besok mau tidak mau harus selesai karena lusa kami sudah harus pamit dari kota indah ini, kami sudah penarikan dan kembali ke kota masing-masing berkumpul dengan keluarga yang lama kami tinggalkan.
Oh iyae’, kami sudah hampir 2 bulan, kami dah bersama selama itu jadi hubungan kami semua dah bagaikan keluarga sendiri. Di tempat kami banyak ko teman 1 universitas tapi lain posko. Di posko ini berjumlah 12 orang termasuk ke dua teman saja ini. Yang baru datang namanya Rical (samaran) biasa dipanggil Ical, anak seni dari Kab. Jeneponto (fiktif), kalau cewek yang maua bertanya itu nama Ririn Amriani (samaran) atau sering di panggil Irin anak sosiologi dari Kab. Mamuju (fiktif).
***
1 pesan di terima. Belum berselan beberapa detik HP.ku bunyi aku langsung membaca pesan itu. Dari Ririn Amriani, bigitu lengkap memang semua nama kontak dalam HPku.
“Ass’ kak. ..

Oh yae kak, yang mau aku tanyakan kemarin malam sebenarnya tentang SMS kakak yang lalu. “Apakah kakak serius tentang itu.”
Kuberpikit sejenak untuk merangkai kata-kata yang akan membalas pesan yang barusan kubaca ini.
“Was’ dek. ..”
Cukup 1 kali kau mnyakitiku dek, aku tidak mau sakit untuk yang ke dua kali. Anggaplah ungkapan hatiku itu hanyalah sebuah mimpi buruk dalam tidurmu, jujur Aku merasa bahagia kita bersama di kota kecil indah ini. Cukup indah kebersamaan kita dek dan aku tidak mau menodainya dengan sakit hati yang akan kubawah pulang.”
Itu balasan dari SMS yang kubaca.
“berarti kakak Cuma main-main donk?”
“Bukan begitu dek, nanti kita bicarakan secara langsung dek na”
Sekian lama waktu berdetak untuk menunggu balasan dari pesan yang kukirim untuknya tapi tak juga munjul pesan dari HP.ku. ..tiba-tiba suara dari luar kamar terdengar.
“Kak ayo ke rumahnya bunda untuk melanjutkan perjuangan mengerjakan tugas”
“Tunggu dek Q panggil Rical dulu”
“Iya kak”
“Aku duluan kak na ma teman2 yang lain”
“Iye dek, nnti aku nyusul”
Kanget juga melihatnya tiba2 memanggil untuk kerjakan tugas. Kemarin tugas kami memang belum selaesai jadi malam ini harus selesai karena besok pagi kami dah penarikan.
“Cal, ayo ke rumahnya bunda kerja laporan”
“Tunggu, aku pakai baju dulu”
Rumah bunda berjarak  300 meter dari tempat nginap kami jadi Cuma jalan kaki ke sana. Oh iya yang kami panggil bunda di sini adalah salah satu guru dari sekolah kami praktel lapangan. Kami di kota ini selain KKN juga PPL. KKN-PPL terpadu namanya
*****
“Ical tolong beli kopi dulu donk sekalian ma rokok, Irin kaya gantuk tu”
“Oke bos”
“Ini uang”
Aku sengaja membuat Ical keluar dari kamar ini supaya kami berdua bisa leluasa berbicara tentang SMS yang dikirim Irin ke aku. Tapi lama aku tunggu dia tak memulai percakapan juga akupun tak berani untuk memulainya. Penantian panjang itupun akhirnya berakhir, Irin mulai berbicara.
“Kak, tidak terasa yae besok kita semua dah tak bersama lagi dalam 1 atap. Kita semua sudah pulang ke rumah masing-masing, bersama keluarga, teman2 di kampung, padahal aku masih mau di sini kak
Bersama semuanya”
“Kalau begitu tinggal saja di sini dek, tamba lagi KKNmu jdi 1 bulan”
“Kakak ko begitu si, memangnya kak tau mau lagi bersama kami untuk bercanda. Kak memang tidak punya perasaan ya. Sama kaya pertama kali datang cuek sekali”
“Hahhaaa, kau itu Rin. Sapa juga yang cuek, kayanya tidak deh!”
“Apanya tidak kak, justru saya yang paling merasa di cuekin ma kakak. Setiap kali saja ajak bercanda kak tidak mengubris. Eh kalau kak Ina ma kak Anti, Mala kakak yang duluan gangui mereka”
“Tidak, biasa aja kok ma mereka. Aku Cuma tidak mau terlalu dekat dengan kalian karena kedekatan itu akan membawah sakit hati jika kita sudah berpisah, dan justru aku ingin cepat2 pulang dari sini supaya keindahan singkat ini tak begitu membekas dalam hati kita masing2”
“Ternya kakak memang tak punya perasaan, nanti saya tanya ma teman2 yang lain”
“Jangan dek, Q Cuma merasa dekat denganmu jadi aku kata ini padamu, karena aku tau kau pasti bisa paham dengan ungkapan ini”
“Tidak kak, aku tidak begitu pahan dengan pikiran kakak. Justru aku merasa kakak itu tak punya hati sedikitpun”
“Terserahlah dek, yang jelasnya kita liat nanti sapa yang benar akan semua ke hidupan di posku ini. Orang yang begitu dekatka dengan kalian yang melupakn begitu cepat kebersamaan ini atau malah saya yang tidak begitu dek dan ingin cepat2 pulang dan mengakhiri kebersamaan ini”
“Oh iyae dek, aku dengar2 pulang dari sini kamu langsung menikah yae dengan tunangamu itu, yang perna menjengukmu?”
“Apa kak, tunangan, bukanlah kak, dia itu dah kuanggap saudara sendiri kak, kami dah lama kenal bahkan sejak aku di Madrasa Alia”
“Oh kirain dia itu tunangan kamu dek”
“Bukan kak, kalau kak sendiri sama Santi pulang dari KKN langsung nikah khae”
Nikah, kau itu ada2 saja. Sapa pula itu Santi?”
“Tunangan kakak toe, yang sepupunya kak Ina kacamata”
“Oh itu, kami memang kenal tapi tidak sampai tungan juga kali, bahkan pacaran saja tidak. Emanya sapa yang tanyaki dek soal ini?’
“Kak Anti ma kak Ina kak. Perna kami di dapur bahas kak seharian waktu baru2 datang di sini. Kata kak Anti jangan coba2 main2 ma anak2 Irin utamanya kakak karena dia itu sudah punya tunangan habis KKN mereka itu langsung menikah. Biarpun mereka mengodamu atau kau tertarik ma dya karena sakit hatijako nanti. Kak Inapun menyebut nama Santi sebagai tunangan kakak. Kata kak Ina, kakak sering kerumah Santi bahkan sudah melamarnya, habis dari KKN nikah gitu”
“Ternyata kak Anti ma Ina begitu die ma saya. Maksud mereka memceritakan itu padamu apa yae?”
“Dya tidak mau Aku jatuh cinta ma kakak, hahhaaa” (senyum manis itu terlihat jelas dibibirnya) “maunya kak Anti aku jatuh cinta ma kak Bair”(Bair salah satu teman posko dari Kab. Enrekang)
“Kenapa bilang begitu dek?”
“Kak Anti juga selalu puji2 kak Bair didepanku. Katanya kak Bair saja yang baek di antara cowok2 yg ada di posko ini. Jadi, kalau kamu mau dekat ma cowok di posko ini mending ma Bair, qm akan aman di samping dia.
Kugelengkan kepala*sebagian teks hilang* “Hahhaaaaa”
 #
Ab’bhue ABC
Makassar, 22 April 2012

Selasa, 08 Maret 2011

Terhapus atau Dihapus


Haruskah aku mengulang kembali
Untuk menemukan sebuah jawaban?
Aku tak mengerti, kenapa aku harus mengulangnya
Dan akupun tak peduli
Meski semuanya salah
Karena memeng tak ada jawaban yang benar
dari pertanyaan yang benar
karena kau dan aku memeng sebuah kekeliruan

haruska aku yang terhapus?
Atau kau saja yang saya hapus?
Atau kau dan aku yang terhapus?
Tapi siapa yang akan menghapusmu?
Karena itu tak mungkin terjadi. ..
Makassar, 8 12 2011