Gerimis ini seakan berbisik padaku
“masih ingatka kau dengan dya?”
Tentu kujawab
“ya, aku masih begitu mengingatnya”
“apa yang kau ingat tentang dya?”
“semuanya”
“yang paling kau ingat
yang paling kau ingat?”
“banyak kenangan tentang dya”
“Di antaranya?”
Aku masih begitu mengingatnya. ketika dya menangis saat kami
akan dipisahkan oleh waktu, kungengam tanganya yang lembut, lalu aku bertanya:
apakah kita masih bisa bertemu?, apakah aku masih bisa
mendengar suara tawamu?, apakah aku masih bisa melihatmu tersenyum?, apakah aku
masih bisa mengengam tanganmu seperti sekarang?, tapi dya membusi, tak ada ekspresi sama sekali atas tanyaku itu. lalu
kulanjutkan tanyaku padanya. Izinkan aku untuk menunggu jawaban atas semua tanya ini,
apakah kau mengizinkanku? Dya berpaling tapi gengaman tanganya tak dilepasnya, makin
erat jemarinya mengengam jemariku. ..
Lalu aku berkata
Terus bagaimana ini? Dyapun tak ada ekspresi. Kulihat matanya
dya kembali berpaling
Ketika waktu semakin menyempit untuk memisahkan air matany
mengalir. Lalu dya berkata. ..Kak aku sukaki, tapi aku tidak bisa jadi pacar
kakak tapi ku isinkan kakak untuk mencintaiku. ..maaf kak. apakah kamu mencintaiku? Aku sukaki kak, aku benar-benar menyukai
kakak, tapi aku tidak bisa jadi pacar kakak dan ku isinkan kakak untuk
mencintaiku. ..
Jujur aku tak suka kalimat ini waktu itu
Tapi sekarang aku sangat menyukai kalimat itu sebelum dya
mengatakan “aku tak bisa jadi pacarmu karena aku tidak mau”. ..
Kalimat itu yang terakhir di ucapkan padaku sebelum dya
menghilang atau menghilangkan aku dari hatinya
Tak ada lagi kalimat,
“kak aku sukaki tapi aku tidak bisa jadi pacar kakak, maaf
kaka aku benar minta maaf”
Aku rindu kalimat ini, sangat merindukanya. ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar