Minggu, 25 Maret 2012

Goresan buat Lalabata Rilau


Abbhue

Bus melaju melewati jalan berliku, menelusuri hutan dengan pohon menjulang. Tebing dan jurang sili berganti jadi pemandangan perjalanan yang melelahkan. Bagitu jauh tujuan bus ini, terasa sangat jauh, jauh dari keluarka, jauh dari  kota kelahiranku, jauh dari kota kebanggaanku, jauh dari teman-teman dekatku. Akhirnya bus berhenti di sebuah kota kecil di pengunungan yang beratus kilo dari awal perjalanannya. Sebuah kota yang di tumbuhi popohonan besar yang berjejer dengan rapi di pingil jalan dan yang paling menabjupkan adalah pohon-pohon besar itu dihuni oleh kelelawar-kelelawar yang berukuran besar. Beratus-ratus, tidak, mungkin beribu-ribu, yae, beribu-ribu kelelawar hinggap di ranting pohon-pohon besar itu. Sunggu pemandangan yang teramat langkah.
Bus itupun pergi tampa penumpang yang tadinya ada berpulu-pulu orang. 1, 2, dan 3 bus, semuanya pergi meninggalkan kota kecil yang menabjupkan itu dengan penumpang hanya 2 orang yaitu kernek yang menemani sang sopir untuk kembali pulang ke kota metropolitan di indonesia timur.
Kota ini akan menjadi ruang bagi penumpang bus itu untuk melewati waktu beberapa bulan, tepatnya 2-3 bulan ke depan. Mobil-mobil kecil dan mewah berceceran menunggu penumpang yang dari tadi mereka tunggu. mobil kecil memisahkan penumpang bus itu menjadi beberapa orang saja dan memisahkan sahabat, teman, dan kawan yang masih sempat berjanda gurau di atas bus. Satu persatu mobil itu pergi dengan penumpang dan barang2 bawaan ke tujuan yang berbeda.
Melewati jalur keluar dengan tujuan sebuah rumah persingahan beberapa orang asing di kota kecil ini. Nampak dari kejauhan sebuah rumah besar dan pekangan yang seadanya tempat tujuan mobil yang di tumpanggi.
Waoh, rumah yang belum jadi, rumah yang kotor, rumah yang tidak di rawat dan banyak hal yang membuat orang jiji untuk menginjakan kaki didalamnya. Rumah yang selama 10 tahun tak berpenghuni dan pastinya tak terawat, kini mendadak jadi ramai oleh suara asing di telinga tetangga dan berlansung terus-menerus selama 2 bulan kedepan. Wajah yang kusut dari orang asing ini tampak begitu nyata, malumlah perjalanan jauh itu menguras banyak tenaga, bukan hanya tenaga tapi pikiran mereka juga ikut melayang menamba raut wajah mereka tidak enak untuk dinikmati lama-lama.
Beberapa orang sudah mulai sibuk membersihan ruang demi ruang dari rumah baru mereka, huniang mereka sementara. Bantuang datang dari tetanga baru, keluarga baru, orang tua baru dan saudara baru. Ya, mereka sekarang sudah menjadi keluarga di tempat yang asing ini, layaknya keluarga yang tinggal 1 atap mereka sama bekerja untuk memperindah istana baru dan sementara untuk keluarga ini.
#
Indah terasa kerajaan keluarga ini setelah 4 hari mereka merenopasi sesuai keinginan. Ya, 4 hari, waktu yang lumayan lama bukan?
Keindahan itu tak begitu memuaskan hati keluarga ini. Keluarga, sahabat, kota di mana mereka tinggal sebelumnya adalah alasan untuk tidak menikmati ke indahan baru ini. Suara HP berdering seli berganti menanyakan kabar 1 persatu penghuni rumah dari kerabat yang di tinggalkan. Begitu rindu mereka dengan keluarganya, air matapun tampa di sadari menetes berkali-kali bila suara yang di rindukan terdengan dari kejauhan lewat teknologi ini.
Ingin rasanya kembali detik ini juga berjumpa dengan Ibu, ayah, kakak dan adik tercinta. Beda rasanya tinggal dengan orang-orang asing, merasa tidak nyaman dan tidak aman. Kebiasaan melewati waktu di rumah sendri begitu nyata untuk dirindukan. “aku ingin pulang, aku ingin tidur di kasur usangku sambil memeluk bantal gulingku sendiri”. Inilah pikiran mereka semua.

#
Ruang dari waktu ini dah berdetak begi lama, Asing menjadi intim. Pilu menjadi riang. Air mata berganti tawa seiring kegiatan-kegiatan yang di lewati bersama. Raut majah sendu berubah riang, ngelegar tawa menghiasi rumah indah ini. Begitu bedah, bahkan sangat berbeda saat pertama kali menginjaka kaki di kota kecl ini. Dari jauh haripun sebelum mereka berangkat ke kota ini. Rasa kecewa kenapa harus ke kota ini terus membayangi pikiran mereka,
“aku tidak mau, aku tidak ikut, maunya di kotaku saja”.
Kata ini sering kudengar dari mulut teman-teman, dari mulutkupun sering kuucapkan.
Pikiran berdebat hebat antara ikut atau tidak, tapi apapun alasanya harus tetap ikut, denga langkah ngontai kujing-jing tas dan koper yang penuh dengan barang untuk di pakai di kota tujuan sebagai tugas dan wajib untuk dilaksanakan. Salam perpisahan terakhir kepada keluarga kulantungkan lewat telpon saja, kecuali sama kakak yang mengantar sampai ke tempat pemberangkatan. Air mata sedikit berderai dari lelaki yang kuat ini begitupula dengan kakak tercinta
“salam ma Ibu, Ayah, kakak, dan adek. Sampaikan maafku sama mereka,”
ungkapan terakhir sebagai salam perpisahan untuk keluargaku di kampung tempatku dilahirkan.
#
Keintiman kian waktu kian bertamba, seiring waktu yang terus berdetak. Kukenal orang asing ini dengan kepribadian masing-masing. Ramah, baik, dan penuh tanggung jawab, itu mereka. Rumah indah ini terus menerus melahirkan tawa dari canda tiap detak.x. Setiap kegiatan di lakukan bersama layaknya keluarga. Main, bekerja, dan santai membuat lingkungan asing ini menjadi tidak asing. Betul, tidak terasa ada orang asing di sini. Mereka semua menerima satu sama lain. Saling mengerti, saling menjaga, dan saling memahami. Indah terasa ruang waktu di tempat asing ini. Tak perna berhenti rasa syukur sudah di takdirkan kenal dengan orang-orang hebat seperti kalian, wahai orang asing.
Kalian sudah berbagi waktu denganku, sudah menyisipkan hidup untuk bersamaku, sudah memberikan ke indahan baru. Begitu indah kebersamaan ini hingga tak terasa ada orang-orang merindukan akan kehadiran kami dari jauh. Ingin rasa terus bersama berbagi kehidupan dan nafas perjuangan, melewati hari-hari tampa batas ruang.
Terimalah ucapan terima kasihku keluarga baruku. Kalian adalah ayah, ibu, saudara buatku saat ini. Kalian adalah keindahan dikala hati ini merasa risau untuk berdeyut. Kalian adalah aliran darah dikala jantungku tak berdetak, kalian adalah langkah kaki dikala telapaknya kesakitan menghantam pilunya hidup, kalian adalah nafas kehidupan dikala hidungku sesak menghirup udara penderitaan. Kalian adalah semua kehidupan saat ini buatku.
“Terima kasih Kak Wiah, Pak Basri, Ibu Sinar, Acank, Asis, Ady, Ardy, Lina kuadrat, Ulfa, dan Ibu Linda”.
Lalabata Rilau, 25 Maret 2012.
Kulanjutkan nanti. ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar