Abbhue
Bus melaju
melewati jalan berliku, menelusuri hutan dengan pohon
menjulang. Tebing dan jurang sili berganti jadi pemandangan perjalanan yang
melelahkan. Bagitu jauh tujuan bus ini, terasa sangat jauh, jauh dari keluarka,
jauh dari kota kelahiranku, jauh dari
kota kebanggaanku, jauh dari teman-teman dekatku. Akhirnya bus berhenti di
sebuah kota kecil di pengunungan yang beratus kilo dari awal perjalanannya.
Sebuah kota yang di tumbuhi popohonan besar yang berjejer dengan rapi di pingil
jalan dan yang paling menabjupkan adalah pohon-pohon besar itu dihuni oleh
kelelawar-kelelawar yang berukuran besar. Beratus-ratus, tidak, mungkin
beribu-ribu, yae, beribu-ribu kelelawar hinggap di ranting pohon-pohon besar itu.
Sunggu pemandangan yang teramat langkah.
Bus itupun pergi tampa penumpang yang tadinya ada
berpulu-pulu orang. 1, 2, dan 3 bus, semuanya pergi meninggalkan kota kecil
yang menabjupkan itu dengan penumpang hanya 2 orang yaitu kernek yang menemani
sang sopir untuk kembali pulang ke kota metropolitan di indonesia timur.
Kota ini akan menjadi ruang bagi penumpang bus itu
untuk melewati waktu beberapa bulan, tepatnya 2-3 bulan ke depan. Mobil-mobil
kecil dan mewah berceceran menunggu penumpang yang dari tadi mereka tunggu.
mobil kecil memisahkan penumpang bus itu menjadi beberapa orang saja dan
memisahkan sahabat, teman, dan kawan yang masih sempat berjanda gurau di atas
bus. Satu persatu mobil itu pergi dengan penumpang dan barang2 bawaan ke tujuan
yang berbeda.
Melewati jalur keluar dengan tujuan sebuah rumah
persingahan beberapa orang asing di kota kecil ini. Nampak dari kejauhan sebuah
rumah besar dan pekangan yang seadanya tempat tujuan mobil yang di tumpanggi.
Waoh, rumah yang belum jadi, rumah yang kotor, rumah
yang tidak di rawat dan banyak hal yang membuat orang jiji untuk menginjakan
kaki didalamnya. Rumah yang selama 10 tahun tak berpenghuni dan pastinya tak
terawat, kini mendadak jadi ramai oleh suara asing di telinga tetangga dan
berlansung terus-menerus selama 2 bulan kedepan. Wajah yang kusut dari orang
asing ini tampak begitu nyata, malumlah perjalanan jauh itu menguras banyak
tenaga, bukan hanya tenaga tapi pikiran mereka juga ikut melayang menamba raut
wajah mereka tidak enak untuk dinikmati lama-lama.
Beberapa orang sudah mulai sibuk membersihan ruang
demi ruang dari rumah baru mereka, huniang mereka sementara. Bantuang datang
dari tetanga baru, keluarga baru, orang tua baru dan saudara baru. Ya, mereka
sekarang sudah menjadi keluarga di tempat yang asing ini, layaknya keluarga
yang tinggal 1 atap mereka sama bekerja untuk memperindah istana baru dan
sementara untuk keluarga ini.
#
Indah terasa kerajaan keluarga ini setelah 4 hari
mereka merenopasi sesuai keinginan. Ya, 4 hari, waktu yang lumayan lama bukan?
Keindahan itu tak begitu memuaskan hati keluarga ini.
Keluarga, sahabat, kota di mana mereka tinggal sebelumnya adalah alasan untuk
tidak menikmati ke indahan baru ini. Suara HP berdering seli berganti
menanyakan kabar 1 persatu penghuni rumah dari kerabat yang di tinggalkan.
Begitu rindu mereka dengan keluarganya, air matapun tampa di sadari menetes
berkali-kali bila suara yang di rindukan terdengan dari kejauhan lewat
teknologi ini.
Ingin
rasanya kembali detik ini juga berjumpa dengan Ibu, ayah, kakak dan adik
tercinta. Beda rasanya tinggal dengan orang-orang asing, merasa tidak nyaman
dan tidak aman. Kebiasaan melewati waktu di rumah sendri begitu nyata untuk
dirindukan. “aku ingin pulang, aku ingin tidur di kasur usangku sambil memeluk
bantal gulingku sendiri”. Inilah pikiran mereka semua.
#
Ruang dari waktu ini dah berdetak begi lama, Asing
menjadi intim. Pilu menjadi riang. Air mata berganti tawa seiring
kegiatan-kegiatan yang di lewati bersama. Raut majah sendu berubah riang,
ngelegar tawa menghiasi rumah indah ini. Begitu bedah, bahkan sangat berbeda
saat pertama kali menginjaka kaki di kota kecl ini. Dari jauh haripun sebelum
mereka berangkat ke kota ini. Rasa kecewa kenapa harus ke kota ini terus
membayangi pikiran mereka,
“aku
tidak mau, aku tidak ikut, maunya di kotaku saja”.
Kata
ini sering kudengar dari mulut teman-teman, dari mulutkupun sering kuucapkan.
Pikiran berdebat hebat antara ikut atau tidak, tapi apapun
alasanya harus tetap ikut, denga langkah ngontai kujing-jing tas dan koper yang
penuh dengan barang untuk di pakai di kota tujuan sebagai tugas dan wajib untuk
dilaksanakan. Salam perpisahan terakhir kepada keluarga kulantungkan lewat
telpon saja, kecuali sama kakak yang mengantar sampai ke tempat pemberangkatan.
Air mata sedikit berderai dari lelaki yang kuat ini begitupula dengan kakak
tercinta
“salam
ma Ibu, Ayah, kakak, dan adek. Sampaikan maafku sama mereka,”
ungkapan
terakhir sebagai salam perpisahan untuk keluargaku di kampung tempatku
dilahirkan.
#
Keintiman kian waktu kian bertamba, seiring waktu yang
terus berdetak. Kukenal orang asing ini dengan kepribadian masing-masing.
Ramah, baik, dan penuh tanggung jawab, itu mereka. Rumah indah ini terus
menerus melahirkan tawa dari canda tiap detak.x. Setiap kegiatan di lakukan
bersama layaknya keluarga. Main, bekerja, dan santai membuat lingkungan asing
ini menjadi tidak asing. Betul, tidak terasa ada orang asing di sini. Mereka
semua menerima satu sama lain. Saling mengerti, saling menjaga, dan saling
memahami. Indah terasa ruang waktu di tempat asing ini. Tak perna berhenti rasa
syukur sudah di takdirkan kenal dengan orang-orang hebat seperti kalian, wahai
orang asing.
Kalian sudah berbagi waktu denganku, sudah menyisipkan
hidup untuk bersamaku, sudah memberikan ke indahan baru. Begitu indah
kebersamaan ini hingga tak terasa ada orang-orang merindukan akan kehadiran
kami dari jauh. Ingin rasa terus bersama berbagi kehidupan dan nafas
perjuangan, melewati hari-hari tampa batas ruang.
Terimalah ucapan terima kasihku keluarga baruku.
Kalian adalah ayah, ibu, saudara buatku saat ini. Kalian adalah keindahan
dikala hati ini merasa risau untuk berdeyut. Kalian adalah aliran darah dikala
jantungku tak berdetak, kalian adalah langkah kaki dikala telapaknya kesakitan
menghantam pilunya hidup, kalian adalah nafas kehidupan dikala hidungku sesak menghirup
udara penderitaan. Kalian adalah semua kehidupan saat ini buatku.
“Terima
kasih Kak Wiah, Pak Basri, Ibu Sinar, Acank, Asis, Ady, Ardy, Lina kuadrat, Ulfa,
dan Ibu Linda”.
Lalabata Rilau, 25 Maret 2012.
Kulanjutkan nanti. ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar