“Kak’, ada yang mau aku tanyakan”
Tiba-tiba suara perempuan
menengurku dengan sentak, tapi aku tak kanget kerana sejak tadi kami memeng
bersama dalam kamar kecil ini dengan kesibukan masing-masing. 2 buah laptop ada
di depan kami berdua dengan suaranya yang super berisik “Tak takkk takkk”,
suara itu berulang kami dengar baik dari suara jari lentiknya yang nindi
abjak-abjak dari keibour laptopnya dan cari tangan kasarkupun melakukan hal
yang sama pada laptop dihadapanku. Kami berbagi job untuk mengerjakan tugas
yang sama, yaitu tugas akhir dari perjalanan kami di kota kecil yang indah ini.
“Mau tanya apa dek?”
“Tidak
jadi kak”
“Ko gitu. tanya saja, tapi jangan
pertanyaan yang sulit na. Kalau 1 + 1 si bolehlah kau tanyakan dek”
“Hahahaaa.”
“Kakak itu berjanda terus deh”
Akupun tersenyum melihatnya agak
serius kali ini. Padahal biasanya dia yang paling sering berjanda di antara keluarga
barunya di kota kecil ini. Dya yang paling riang di antara keluarga baru di
sini. Akupun merasa bingun, kira-kira apa ya yang dimau tanyakan kok serius
begitu.
“Tanya saja dek, tidak perlu
malu-malu”
Kumulai percakapan yang sempat
terputus oleh lamunan yang tak kunjung menerka atas pertanyaan yang ingin dia
lontarkan.
“Bagaimana memulainya kakak die,
aku bingung”
“Ko gitu si. Biasa.x orang itu
memulainya dari angka 1 dek”
“Hehheee. ..”
“Kakak berjanda terus. Aku tidak
jadi bertanya ah”
“Apa si dek. Aku penasaran nie”
“Nanti Aku SMS kakak aja de”
“Ko SMS segala si dek, kan aku
ada di sini”
“Nanti aku SMS kak”
Tok tok tookkk
“Assalamu alaikum”
“Waalaukum mussalam”
Aku dan dia menjaWab dengan
serentak salam dari teman yang baru datang untuk membantu kami mengerjakan
laporan terakhir perjalanan kami di kota kecil ini, laporan segala aktivitas
yang kami lakukan mulai dr awal sampai akhir. Kami bertiga dah 3 malam
mengerjakan laporan ini tapi tak kunjung selesainya juga padahal besok mau
tidak mau harus selesai karena lusa kami sudah harus pamit dari kota indah ini,
kami sudah penarikan dan kembali ke kota masing-masing berkumpul dengan
keluarga yang lama kami tinggalkan.
Oh iyae’, kami sudah hampir 2
bulan, kami dah bersama selama itu jadi hubungan kami semua dah bagaikan keluarga
sendiri. Di tempat kami banyak ko teman 1 universitas tapi lain posko. Di posko
ini berjumlah 12 orang termasuk ke dua teman saja ini. Yang baru datang namanya
Rical (samaran) biasa dipanggil Ical, anak seni dari Kab. Jeneponto (fiktif),
kalau cewek yang maua bertanya itu nama Ririn Amriani (samaran) atau sering di
panggil Irin anak sosiologi dari Kab. Mamuju (fiktif).
***
1 pesan di terima. Belum berselan
beberapa detik HP.ku bunyi aku langsung membaca pesan itu. Dari Ririn Amriani,
bigitu lengkap memang semua nama kontak dalam HPku.
“Ass’ kak. ..
Oh yae kak, yang mau aku tanyakan
kemarin malam sebenarnya tentang SMS kakak yang lalu. “Apakah kakak serius
tentang itu.”
Kuberpikit sejenak untuk
merangkai kata-kata yang akan membalas pesan yang barusan kubaca ini.
“Was’ dek. ..”
Cukup 1 kali kau mnyakitiku dek,
aku tidak mau sakit untuk yang ke dua kali. Anggaplah ungkapan hatiku itu
hanyalah sebuah mimpi buruk dalam tidurmu, jujur Aku merasa bahagia kita
bersama di kota kecil indah ini. Cukup indah kebersamaan kita dek dan aku tidak
mau menodainya dengan sakit hati yang akan kubawah pulang.”
Itu balasan dari SMS yang kubaca.
“berarti kakak Cuma main-main
donk?”
“Bukan begitu dek, nanti kita
bicarakan secara langsung dek na”
Sekian lama waktu berdetak untuk
menunggu balasan dari pesan yang kukirim untuknya tapi tak juga munjul pesan
dari HP.ku. ..tiba-tiba suara dari luar kamar terdengar.
“Kak ayo ke rumahnya bunda untuk
melanjutkan perjuangan mengerjakan tugas”
“Tunggu dek Q panggil Rical dulu”
“Iya kak”
“Aku duluan kak na ma teman2 yang
lain”
“Iye dek, nnti aku nyusul”
Kanget juga melihatnya tiba2
memanggil untuk kerjakan tugas. Kemarin tugas kami memang belum selaesai jadi
malam ini harus selesai karena besok pagi kami dah penarikan.
“Cal, ayo ke rumahnya bunda kerja
laporan”
“Tunggu, aku pakai baju dulu”
Rumah bunda berjarak 300 meter dari tempat nginap kami jadi Cuma
jalan kaki ke sana. Oh iya yang kami panggil bunda di sini adalah salah satu
guru dari sekolah kami praktel lapangan. Kami di kota ini selain KKN juga PPL.
KKN-PPL terpadu namanya
*****
“Ical tolong beli kopi dulu donk
sekalian ma rokok, Irin kaya gantuk tu”
“Oke bos”
“Ini uang”
Aku sengaja membuat Ical keluar
dari kamar ini supaya kami berdua bisa leluasa berbicara tentang SMS yang
dikirim Irin ke aku. Tapi lama aku tunggu dia tak memulai percakapan juga
akupun tak berani untuk memulainya. Penantian panjang itupun akhirnya berakhir,
Irin mulai berbicara.
“Kak, tidak terasa yae besok kita
semua dah tak bersama lagi dalam 1 atap. Kita semua sudah pulang ke rumah
masing-masing, bersama keluarga, teman2 di kampung, padahal aku masih mau di
sini kak
Bersama semuanya”
“Kalau begitu tinggal saja di
sini dek, tamba lagi KKNmu jdi 1 bulan”
“Kakak ko begitu si, memangnya
kak tau mau lagi bersama kami untuk bercanda. Kak memang tidak punya perasaan
ya. Sama kaya pertama kali datang cuek sekali”
“Hahhaaa, kau itu Rin. Sapa juga
yang cuek, kayanya tidak deh!”
“Apanya tidak kak, justru saya
yang paling merasa di cuekin ma kakak. Setiap kali saja ajak bercanda kak tidak
mengubris. Eh kalau kak Ina ma kak Anti, Mala kakak yang duluan gangui mereka”
“Tidak, biasa aja kok ma mereka.
Aku Cuma tidak mau terlalu dekat dengan kalian karena kedekatan itu akan
membawah sakit hati jika kita sudah berpisah, dan justru aku ingin cepat2
pulang dari sini supaya keindahan singkat ini tak begitu membekas dalam hati
kita masing2”
“Ternya kakak memang tak punya
perasaan, nanti saya tanya ma teman2 yang lain”
“Jangan dek, Q Cuma merasa dekat
denganmu jadi aku kata ini padamu, karena aku tau kau pasti bisa paham dengan
ungkapan ini”
“Tidak kak, aku tidak begitu
pahan dengan pikiran kakak. Justru aku merasa kakak itu tak punya hati
sedikitpun”
“Terserahlah dek, yang jelasnya
kita liat nanti sapa yang benar akan semua ke hidupan di posku ini. Orang yang
begitu dekatka dengan kalian yang melupakn begitu cepat kebersamaan ini atau
malah saya yang tidak begitu dek dan ingin cepat2 pulang dan mengakhiri
kebersamaan ini”
“Oh iyae dek, aku dengar2 pulang
dari sini kamu langsung menikah yae dengan tunangamu itu, yang perna menjengukmu?”
“Apa kak, tunangan, bukanlah kak,
dia itu dah kuanggap saudara sendiri kak, kami dah lama kenal bahkan sejak aku di
Madrasa Alia”
“Oh kirain dia itu tunangan kamu
dek”
“Bukan kak, kalau kak sendiri
sama Santi pulang dari KKN langsung nikah khae”
Nikah, kau itu ada2 saja. Sapa
pula itu Santi?”
“Tunangan kakak toe, yang
sepupunya kak Ina kacamata”
“Oh itu, kami memang kenal tapi
tidak sampai tungan juga kali, bahkan pacaran saja tidak. Emanya sapa yang
tanyaki dek soal ini?’
“Kak Anti ma kak Ina kak. Perna
kami di dapur bahas kak seharian waktu baru2 datang di sini. Kata kak Anti
jangan coba2 main2 ma anak2 Irin utamanya kakak karena dia itu sudah punya
tunangan habis KKN mereka itu langsung menikah. Biarpun mereka mengodamu atau
kau tertarik ma dya karena sakit hatijako nanti. Kak Inapun menyebut nama Santi
sebagai tunangan kakak. Kata kak Ina, kakak sering kerumah Santi bahkan sudah
melamarnya, habis dari KKN nikah gitu”
“Ternyata kak Anti ma Ina begitu
die ma saya. Maksud mereka memceritakan itu padamu apa yae?”
“Dya tidak mau Aku jatuh cinta ma
kakak, hahhaaa” (senyum manis itu terlihat jelas dibibirnya) “maunya kak Anti
aku jatuh cinta ma kak Bair”(Bair salah satu teman posko dari Kab. Enrekang)
“Kenapa bilang begitu dek?”
“Kak Anti juga selalu puji2 kak Bair
didepanku. Katanya kak Bair saja yang baek di antara cowok2 yg ada di posko ini.
Jadi, kalau kamu mau dekat ma cowok di posko ini mending ma Bair, qm akan aman
di samping dia.
Kugelengkan kepala*sebagian teks
hilang* “Hahhaaaaa”
Ab’bhue
ABC
Makassar,
22 April 2012