Ada keintiman saat
sesuatu merangkul jemariku
Ada rasa yang jelas saat
sela-sela jari ini ada di sela-sela jemarimu
Untaian kata tak mampu menembus topeng raut riang
Lantunan lagu tak bisa
mengimbangi girangnya hati
Diam, diam, dan diam
Hal yang bisa mengambarkan
semuanya
Tak peduli ada tatapan
tertujuh
Ada ocehan yang menggema
Dunia seakan mengeluh
karna tak dianggap
Tapi saat ini, diam, diam, dan diam itu mulai tak begitu jelas
Dunia seakan tertawa karena dulu
tak dianggap
Tatapan itu tersenyum karena dulu tak dipedulikan
Ocehan itu mengejek karena dulu
gemanya tak didengar
Diam itu memperingati
Terlambat, sangat telat
Kini aku sangat merindukanya
“AH
H H H H”
Rasa yang jelas kini menyedihkan,
riang mulai tak begitu jelas
“Masih
inginkah kau menoleh kearahku bila aku dihadapanmu?”
Diam,
menyakitkan,
“Masih
inginkah kau tersenyum manis bila aku menatapmu?”
Diam,menyakitkan,
“Masih
inginkah kau menyapa saat kita bertemu?”
Diam,menyakitkan,
“Masih inginkah jemarimu berada di sela-sela jemariku?”
Diammmm,menyakitkan,
“Masih
inginkah . . .“???”. . . ”
“Diammmmmmmmmmmmm”