Selasa, 23 Juli 2013

Hujan Terakhir di Bulan Juli


Bagai jejak yang terhapus derasnya hujan
Hujan terakhir di Bulan Juli
Biarkan rindu surut terbawa air ke dalam tanah


Tanah yang akan mengubur kisah
Kisah kepergian yang sekejap
Kisah Bulan Juli lalu “BERSAMAMU”       
Terlalu lama kisah rindu                   
Rindu beriak yang ingin KU jadikan buih
Buih yang akan raib
Hilang bersama kisah baru di Bulan Juli ini “BERSAMANYA”
Bagai  jejak yang tersapu ombak.
Ombak pantai yang dipinang jejak pasir
Pasir akan menciptakan jejak baru yang lebih indah
Jadi pergilah. ..

Sabtu, 01 Juni 2013

Rindu dengan Rasa Sakit


Rindu yang tertahankan oleh rasa sakit yang kau torehkan
Tapi rindu ini mengalahkan semuanya
Hadia aku sedit senyummu
Hadia aku sedikit tawamu
Sapa aku dengan suara lembutmu
Aku benar2 rindu tentangmu
Kau ajarkan aku keindahan
Kau ajarkan aku kebahagian
Tapi tak sedikit bimbingan yang kau berikan tentang rasa sakit
Rasa sakit setelah kau pergi
Rasa sakit saat kau tinggalkan
Rasa sakit karena kau benar2 lupa tentangku
Banyak hal kau ajarkan
Tapi kebahagian saat didekatmulah yang benar2 aku pahami dikerinduan ini. ..

Kamis, 11 April 2013


Tak bisa lagi kudengar suaramu di balik jendela kamar
Suara yang melantungkan ayat2 suci
Suara yang menyanyikan lagu qasidah
Tak sempat lagi kuintip wajah manis di sela dinding kamar
Wajah yang hanya terlihat di balik lubang kecil
Wajah yang hanya ditatap secara sembunyi
Aku akan sangat merindukan kamar usang ini
Atap yang bocor
Lantai yang bolong
Dinding yang berlubang
Kasur yang membatu
Banyak nyamuk lagi
Hehheeeeeeeeee
Penderitaan itu hilang
seketika suara dari balik jendela terdengan begitu merdu dan lembut
Entah mana yang membuat rindu,
Kamar atau suara?
Aku akan selalu mengenang suara si balik dinding kamar ini
suara bak mimpi yang tak bisa diraih

Suara di balik dinding

Senin, 04 Maret 2013

Janjimu


Apa ini? ??
Kenapa begini? ??
Bagaimana mingkin aku begitu lemah menhadapi Takdir-Mu ya Rabb! !!
Beri petunjuk-Mu! !!
Tuntung hamba yang lemah ini!  !!
Teguhkan hamba yang rapuh ini! !!
Ikhlaskan hamba yang tak tenang ini! !!
Kutunggu pelagi sehabis badai,
Kutunggu kupu-kupu jelmaan ulat berbulu,
Kutunggu bunga di deretan kaktus yang berduri. ..
Tegarkan hati ini menunggu detak waktu indah yang RABB janjikan! !!

JEMARIKU


Ada keintiman saat sesuatu merangkul jemariku
Ada rasa yang jelas saat sela-sela jari ini ada di sela-sela jemarimu
Untaian kata  tak mampu menembus topeng raut riang
Lantunan lagu tak bisa mengimbangi girangnya hati
Diam, diam, dan diam
Hal yang bisa mengambarkan semuanya
Tak peduli ada tatapan tertujuh
Ada ocehan yang menggema
Dunia seakan mengeluh karna tak dianggap

Tapi saat ini, diam, diam, dan diam itu mulai tak begitu jelas
Dunia seakan tertawa karena dulu tak dianggap
Tatapan itu  tersenyum karena dulu tak dipedulikan
Ocehan itu mengejek karena dulu gemanya tak didengar
Diam itu memperingati
Terlambat, sangat telat
Kini aku sangat merindukanya

“AH H H H H”
Rasa yang jelas kini menyedihkan, riang mulai tak begitu jelas
“Masih inginkah kau menoleh kearahku bila aku dihadapanmu?”
Diam, menyakitkan,
“Masih inginkah kau tersenyum manis bila aku menatapmu?”
Diam,menyakitkan,
“Masih inginkah kau menyapa saat kita bertemu?”

Diam,menyakitkan, “Masih inginkah jemarimu berada di sela-sela jemariku?”
Diammmm,menyakitkan,
“Masih inginkah . . .“???”. . . ”
“Diammmmmmmmmmmmm”

Pilihan atau Takdir


Kau yang kurajut
Kau yang kudetakkan
Kau adalah kenangan yang kubuat
Kau adalah keindahan yang kulukis
Kau adalah anugra yang kuminta
Hidup adalah pilihan
Aku tersakiti
Aku tercampakkan
Aku adalah orang yang diremukkan
Aku adalah orang yang tersiksa
Aku adalah orang yang ditinggalkan
Aku yang menderita
Aku adalah orang yang penuh pilu
Hidup adalah takdir

Tatapan Mimpi


Kuintip dalam mimpi
Kutatap dalam hayalan
Perjumpaan ini
Aku mengenalmu dengan kebahagian
Perkenalan itu indah buatku
Aku mengenang keindahan
 Walaupun akhirnya perkenalan berujung kesakitan
Bukan
Bukan Rasa sakit yang kau berikan saat pergi
Tapi keindahan awal perkenalan yang keingat
Walaupun kau tak menoleh untuk menatap